Senin, 04 November 2013

SEPI DALAM HATI

saat malam datang
kesunyian pun menjelang,
hanya angin malam berhembus membawa aroma kesendirian.

tak terasa kuhadapi
dunia sepi dlm hati
tak seorangpun mengerti
apa lagi mau menemani

hanya senyum semu
hampa termakan waktu
tandus karena jemu
menghilang tanpa ada yg tau.

entah sampai kapan ku jalani,
dunia sepi dlm hati
haya bisa ku lalui, tanpa tau kapan ada yang mau menemani...

by: Lhia

Minggu, 03 November 2013

MAY PRINCESS IN LOVE STORY

Nama panggilan aku Wawan 25 tahun, Ku awali kisah ini dari sebuah desa yang sangat jauh dari keramayan kotaan, di desa ini jarang ditemukan sekolahan, jadi tidak heran jika anak-anak usia 9 – 11 tahun belum masuk sekolah dasar, pada akhirnya aku dan seorang propesor merintis sebuah sekolah dasar yang berbasis kan agama. Walau pun aku juga hanya lulusan sekolah dasar, tapi dengan tekad dan dengan keinginan yang luhur maka terwujudlah cita-cita sekolah tersebut, akhirrnya anak-anak yang tadinya tidak sekolah bisa bersekolah juga, walau pun dengn keadaan yang sangat darurat pasilitas sekolah yang jauh dari kemewahan tapi tidak mengurang tingkat pembelajaran di sekolahan yang aku rintis ini. Seiring waktu berjalan aku dan murid-murid ku bagai sahabat dan teman karena usia kami yang hanya terpaut ±10 tahun saja, tapi mereka sangat menghormati aku sebagai mana menghormati seorang guru.
Tak terasa waktu telah berlalu, lima tahun sudah aku merintis sekolah ini, anak-anak yang tadinya sama sekali tidak tau baca tulis kini menjadi remaja yang pandai dan pintar, aku pun merasa bangga dengan keberhasilan merintis sekolahan ini.
Semester dua dilima tahun sekolahan berjalan. pagi itu aku dan semua anak didikku liburanan semester bersama,  kesebuah air terjun yang tak jauh dari daerah kami,  di tempat itu anak-anak sangat menikmati suasana yang sangat ceria itu, deru air bergemuruh rindang pohon dan semilir angin sangat menyejukan hati dan pikiran, melepas pengat sewaktu di kelas, keceriaan nampak di wajah mereka. dan tanpa ku sadari mataku tertuju pada seorang murid perempuan yang waktu itu usianya ± 15 tahun, entah apa yang ku rasakan, entah apa yang ku pikirkan, entah apa yang ku inginkan, yang jelas pandangan ku tak bisa berpaling dari dia, aku coba memalingkan pandanganku pada yang lain tapi sudut matau tetap melirik dia, entah apa yang ku rasakan, mungkin kah ini sebuah perasaan yang dinamakan cinta?, atau kah hanya sekedar kagum saja karena dia murid yang paling pandai diantara mereka, aku pun terlena menikmati suasana itu, pandangan ku terus tertuju padanya, dan tanpa ku sadari diapun memandangku dengan sayup mata yang sangat menawan, ketika mata kami beradu pandang, dia tersipu malu, dengan tubuh basah kuyup dia kelihatan sangat manis, aku pun jadi salah tingkah aku tak tau apa yang harus ku perbuat. Diapun kelihatan sangat gugup entah apa yang dia rasakan yang jelas dengan sikap yang salah tingkah dia bergabung lagi bersama teman-temanya berenang, tapi yang membuat ku heran sewaktu-waktu dia terus melirik kepadaku sambil senyum-senyum yang engga jelas, aku jadi terdiam terpaku setiap dia memandangku.
Sore telah tiba aku mengajak semua anak-anak untuk pulang. kami pun pulang bersama-sama dan di jalan aku heran kenapa kok dia selalu jalanya dekat denganku dan disetiap jalanan yang curam dia minta digandeng olehku dan tak pernah mau jika temanya yang mau menggandengnya. alasanya takut jatuh, 16.30 wib, kami sampai disekolahan dan aku menyuruh semua anak-anak untuk pulang kerumah masing-masing, seperti biasa sebelum pulang kami berdo’a bersama, selesai berdo’a mereka semua bersalaman denganku dan dia yang paling terakhir bersalaman, sambil bersalaman dia berkata padaku katanya “Pak, Aku takan melupakan keindahan hari ini” aku menjawab sambil memegang tangan dia, “iya, Bapak juga” akhirnya kami pulang kerumah masing masing. dihari itu liburan telah berakhir, berakhirnya liburan menjadi awal kisah cinta ku denganya, sejak hari itu aku jadi semangat setiap pagi untuk berangkat lebih awal kesekolah, karena ku ingin melihat senyum dia yang selalu merekah bagai bunga dimusim semi disetiap pagi ketika kami saling menyapa, hari terus berlalu rasa cintaku padanya semakin mendalam, tapi ku tak tau dia mencintai ku atau tidak karena ku tak berani menanyakan hal ini pada dia.
Seminggu takterasa masa libur telah habis kini saatnya kembali kesekolah. Seperti hari-hari biasanya pagi itu aku beranjak pergi keskolah, motor bebek menemani perjalananku kesekolah, sesampainya kesekolah anak-anak sudah pada kumpul, mereka seraya menyapaku, dengan ucapan “Selamat pagi pak guru” ucap mereka serempak, aku juga menjawab “pagi juga anak-anak, apa kabar kalian semua?” tanya ku, “Baik Pak” jawab mereka, tapi ada satu orang yang tak ku dengar suaranya, ku lihat ke bangku deretan tengah baris kedua dari depan, mataku beradu pandangan dengan seorang murid yang ada di deretan bangku itu, dia hanya tersimpu malu sambil merundukan kepalanya, jelas ku lihat senyumnya merekah indah menghiasi muka paginya. 

Hari-Hari terus berlalu tanpa kusadari rasa cintaku semakin mendalam padanya, disetiap hari ingin rasanya ku selalu dekat dengan dia meski begitu aku menutupi perasaanku dihadapan dia dan dihadapan semua anak-anak, aku merasa malu jika aku harus jujur padanya, karena setatus dia sebagai anak muridku pada waktu itu. Hari-hari terus kujalani dengan mimpi suatu saat nanti aku bisa menyatakan cintaku pada dia, dan bisa hidup bersamanya sebagai sepasang kekasih, Ku ukir mimpi disetiap waktu, kumenikmati cinta ini dengan mengagumi dia dari sisi gelap ku, hanya dengan melihat senyum dia disetiap pagi aku telah merasa bahagia, dia menjadi sumber isfirasi untuk ku slalu berkarya, dan dia sumber tenaga yang menjadikan ku semangat disetiap aku mau berangkat ke sekolah.

Ditahun ke enam tibalah saatnya anak-anak didikku mengikuti UAMBN, karena sekolah kami masih bersetatus Fillial maka kami harus mengikuti UAMBN ke  sekolahan induk, 3 April 2010, kami berangkat untuk mengikuti UAMBN di sekolahan induk, aku beserta Semua teman-teman guru dan anak-anak yang akan mengikuti UAMBN mengontrak sebuah rumah yang lokasinya tidak jauh dari tempat melaksanakan UAMBN, di sini untuk pertama kalinya aku tinggal serumah dengan dia selama beberapa hari. Sering ku mencuri waktu untuk berdua dengannya meski tidak jarang anak-anak yang lain mengganggu, Ku merasa heran karena sering tercipta keromantisan bagaikan sepasang keksih yang saling mencintai, dan tak jarapula kami bertengkar bagai sepasang kekasih yang saling cemburu, meski begitu aku menutupi hal ini dari teman guru dan anak-anak yang lain.
Tanpa ku sadari ternyata ada salah satu murid yang selalu memperhatikan aku dengan dia ”Lia Namanya yang tak lain dia adalah sahabatnya”  aku tak tau jika dia selalu memperhatikan tingkah laku kami, sore 6 April 2010 aku sendirian di teras depan kontrakan rumah, anak itu menghampiriku, sambil tersenyum dia menyapaku “Selamat sore pak” katanya, Aku menjawab “Sore juga” kata ku, “sendirian sajah pak” dia berkata lagi, “iya nih” jawabku, “Boleh mengganggu pak” ujar dia sambil tersenyum, “Boleh, Ada apa?” tanyaku, “engga ada apa-apa sih cuman pengen ngobrol sajah” jawab dia, “Oh bgitu” Seruku, “silahkan duduk” aku menyuruh dia untuk duduk, dan diapun duduk disampingku.
Sejenak tak ada suara aku dan dia tidak ada yang berkata, setelah beberapa menit barulah dia membuka pembicaraan, dia berkata “ Oia Pak, Berapa hari lagi pak kita disini” Tanya dia sambil melirik kepadaku, “ Kurang lebih masih tiga hari lagi kita disini” jawab ku, “oh tiga hari lagi yah” saut dia. “Iyah “ Jawab ku, “Memang kenapa? pengen cepet pulang, ga kerasan yah?” Ujar ku lagi, “Engga biasa ajah” Jawab dia, “Syukurlah kalau begitu” ujarku,  “Oiyah pak, aku boleh Tanya sesuatu ga?” dia membuka topik baru, “ Boleh,Tanya apa?” kataku “Tapi bapak jangan marah yah, kalau aku lancing pada bapak” dia sambil melirik kepadaku, “Tergantung” kata ku sambil tersenyum, “kok tergantung pak” seru dia, “Engga kok, becanda, kamu serius banget sih” ujarku, “ Gini pak, aku mau bertanya tentang hubungan bapak sama Teh Uum” kata dia, “Maksud mu” jawab ku, “Iyah, selama ini di sekolah, dan disini bapak deket banget sama the Uum, dan kadang bapak bertingkah mesra dengan dia, dan kayak nya skarang lagi marahan nih, karena biasanya setiap sore dia selalu menemani bapak di teras ini,ayo bapak sama Teh Uum pacaran yah” kata dia sambil menatap penuh Tanya pada ku. Aku sejenak terdiam tak bias jawab, “Kalau bapak diam Berarti iyah, Bapak sama Teh Uum pacaran, “seru dia, “Eng, eng, engga” jawab ku grogi, “ngaku saja pak, kalau iyah mah, ga salah kok, kalau bapak pacaran sama dia” ujar dia lagi, “Siapa yang pacaran, Kamu kepoh banget sih!!! Seru ku, “Jangan malu-malu pak” dia terus mendesak aku, walau aku selalu ngelak tapi dia terus mendesak aku, dan akhirnya aku pun terpojokan oleh dia, “Oke…begini, bapak mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa termasuk dia yah” Seru ku, “Aku janji” kata dia, “Bapak memang suka sama dia dan bapak cinta sama dia, tapi bapak gatau dia punya perasaan yang sama atau engga” Kata ku,  “Oh bgitu, Cie,cie ada yang jatuh cinta nih, ledek dia, “ Iyah nih, tapi bapak malu jika bapak harus nyatain cinta sama dia, dia kan murid bapak juga” ujar ku, “Katakan sajah pak kalau memang bapak cinta mah sama dia, engga  salah kok jika bapak cinta sama dia, bapak laki-laki, masih muda, ganteng lagi, dia perempuan yang beranjak remaja cantik lagi, he. . .he. . .he. . .” ujar dia, “ah… kamu bisa sajah” aku sambil tersenyum tersipu malu, “Tapi bapak bingung dan malu, bapak harus mulai dari mana dan kapan?” Ujar ku lagi, “engga usah bingung dan engga usah malu pak nyatain saja perasaan bapak yang sebenarnya dan secepatnya, tar di samber orang lain bapak baru nyesel” kata dia, “iyah bapak akan nyatain perasaan bapak sama dia, tapi entar setelah kalian lulus sekolah, kamu bantun bapak yah tuk yakinin dia bahwa bapak sungguh-sungguh dan serius cinta sama dia” kata ku, “Iya,pak aku pasti bantuin bapak” Ujar dia, “Yasudah, sudah hamper magrib nih kita kita shalat berjamaah saja di mesjid” Kata ku, “Iya pak, pak aku mau ambil peralatan sembahyang dan ngasih tau yang lain” ujar dia, “Iyah, dan makasih yah kamu sudah mau menemani, tuk berbagi masalah bapak,” Kata ku, “Iyah, pak sama-sam, Aku permisi dulu pak, dia sambil membalikan badan masuk kedalam rumah.
Takterasa waktu berlalu, UAMBN telah selesai dan kami semua kembali kesekolah asal, 21 April 2010 Aku dan semua anak didikku berangkat ke Madrasah Nurul Huda untuk mengikuti Peringatan Hari kartini, Semua anak perempuan aku perintahkan untuk memakai pakaian kebaya, aku merasa elok melihat semua anak didikku yang mengenakan kebaya, mereka menjelma bak Karini muda waktu itu, dengan senyum manis merekah bagai bunga di musim semi seorang murid yang bernama Uum bertanya padaku “Pak bagaimana penampilan aku lebih cantik ksn dari biasanya” Ujar dia sambil tersenyum, “ah biasa sajah tuh” sangkal ku, padahahal dalam hatiku memuji ke anggunan dia, “ih… Bapak Jahat, aku udah dandan cantik gini masa bagi bapak biasa ajah” ujar dia lagi “Iya deh, Kamu cantik” jawab ku, “Makasih pak, aku dandan cantik gini biar bapak bangga sama aku” kata dia, “Maksud mu?” Tanya ku “Yauda deh jangan dibahas lagi, mendingan kita berangkat, “Tuh yang lain sudah menunggu didepan” dia tak mau jawab malah mengalihkan pembicaraan. Akhirnya kami semua berangkat ke Madrasah Nurul Huda.
Acara hari itu telah selesai bermacam kegiatan dan lomba telah selesai, kini tiba saatnya kami pulang kurang lebih waktu itu Pkl 15.00 wib. Dan akhirnya kami pun pulang dan aku mengarahkan semua anak-anak untuk langsung pulang kerumah masing-masing saja. Aku pulang bersama dua anak murid ku dan satu teman guru. Di perjalanan kami Sali becandain lia dan temanku, ngobrol dan becanda sedangkan aku dengan Uum sama seperti mereka, Karena udara masih panas waktu itu kami pun menggunakan dedaunan untuk mengurangi panas matahari yang menyengat tubuh kami. “Pak, Bapak panas ga?” Tanya Uum, “Iyah” Kata ku, “Sini aku payungi Tapi pake daun” Ujar Uum, Meski badan berkeringatan dan udara sangat panas kami jadi jalan bergandengan menggunakan selembar daun pisang sebagai paying, dia pun berkata lagi “Pak boleh aku bertanya sesuatu ga” kata dia, “Boleh” Kata ku, “Kalau seandaiya seorang anak murid jatuh cinta pada gurunya sendiri itu dosa ga pak?” Tanya dia “engga, kalau urusan cintamah ga pandang bulu, Mau anak murid jatuh cinta pada guru atau sebaliknya guru jatuh cinta pada murid, itu sah-sah aja, karena urusan perasaan biasanya tak guru atau murid tua atau muda, miskin atau kaya, kalau perasaan itu sudah dating engga ada yang bias menolak” Jawab ku, dalam hatiku penuh rasa harapan dengan pertanyaan dia, dalam hatiku bergumam “Sbenarnya Bapak telah jatuh cinta pada mu dan bapak suatu saat nanti ingin memiliki kamu” Gumam hatiku, “Oh… Bgitu yah!!!” Seru dia, “Memang kenapa kamu nanya soal itu, Masih kecil jangan ngomongin cinta” Ujar ku. “Enga pak cuma nanya doang. Tak terasa kami sudah sampai ke rumah dia, “mau mampir dulu ga pak” Tanya dia, “engga terimakasih” jawab ku, “Yaudah, kalau engga mampir dulu sampai bertemu besok di sekolah” Ujar dia, “Iyah, kamu istirahat yah” Kata ku, “iya pak, Bapak juga yah” Seru dia. Harin itu telah berlalu, aku pulang dengan harapan besar pada suatu saat nanti aku bias memiliki dia.

BERSAMBUNG.........................