Nama panggilan aku Wawan 25 tahun, Ku awali kisah
ini dari sebuah desa yang sangat jauh dari keramayan kotaan, di desa ini jarang
ditemukan sekolahan, jadi tidak heran jika anak-anak usia 9 – 11 tahun belum
masuk sekolah dasar, pada akhirnya aku dan seorang propesor merintis sebuah
sekolah dasar yang berbasis kan agama. Walau pun aku juga hanya lulusan sekolah
dasar, tapi dengan tekad dan dengan keinginan yang luhur maka terwujudlah
cita-cita sekolah tersebut, akhirrnya anak-anak yang tadinya tidak sekolah bisa
bersekolah juga, walau pun dengn keadaan yang sangat darurat pasilitas sekolah
yang jauh dari kemewahan tapi tidak mengurang tingkat pembelajaran di sekolahan
yang aku rintis ini. Seiring waktu berjalan aku dan murid-murid ku bagai
sahabat dan teman karena usia kami yang hanya terpaut ±10 tahun
saja, tapi mereka sangat menghormati aku sebagai mana menghormati seorang guru.
Tak terasa waktu telah berlalu, lima
tahun sudah aku merintis sekolah ini, anak-anak yang tadinya sama sekali tidak
tau baca tulis kini menjadi remaja yang pandai dan pintar, aku pun merasa
bangga dengan keberhasilan merintis sekolahan ini.
Semester dua dilima tahun sekolahan
berjalan. pagi itu aku dan semua anak didikku liburanan semester bersama, kesebuah air terjun yang tak jauh dari daerah
kami, di tempat itu anak-anak sangat
menikmati suasana yang sangat ceria itu, deru air bergemuruh rindang pohon dan
semilir angin sangat menyejukan hati dan pikiran, melepas pengat sewaktu di
kelas, keceriaan nampak di wajah mereka. dan tanpa ku sadari mataku tertuju
pada seorang murid perempuan yang waktu itu usianya ± 15 tahun,
entah apa yang ku rasakan, entah apa yang ku pikirkan, entah apa yang ku inginkan,
yang jelas pandangan ku tak bisa berpaling dari dia, aku coba memalingkan
pandanganku pada yang lain tapi sudut matau tetap melirik dia, entah apa yang
ku rasakan, mungkin kah ini sebuah perasaan yang dinamakan cinta?, atau kah hanya sekedar kagum saja karena dia murid yang paling pandai
diantara mereka, aku pun terlena menikmati suasana itu, pandangan ku terus
tertuju padanya, dan tanpa
ku sadari diapun memandangku dengan sayup mata yang sangat menawan, ketika mata
kami beradu pandang, dia tersipu malu, dengan tubuh basah kuyup dia
kelihatan sangat manis, aku pun jadi salah tingkah aku tak tau apa yang harus
ku perbuat. Diapun kelihatan sangat gugup entah apa yang
dia rasakan yang jelas dengan sikap yang salah tingkah dia bergabung lagi
bersama teman-temanya berenang, tapi yang membuat ku heran sewaktu-waktu dia
terus melirik kepadaku sambil senyum-senyum yang engga jelas, aku jadi terdiam
terpaku setiap dia memandangku.
Sore telah tiba aku mengajak semua
anak-anak untuk pulang. kami pun pulang bersama-sama dan di jalan aku heran kenapa kok dia selalu
jalanya dekat denganku dan disetiap jalanan yang curam dia minta digandeng olehku dan tak pernah mau
jika temanya yang mau menggandengnya. alasanya takut jatuh, 16.30 wib, kami
sampai disekolahan dan aku menyuruh semua anak-anak untuk pulang kerumah
masing-masing, seperti biasa sebelum pulang kami berdo’a bersama, selesai
berdo’a mereka semua bersalaman denganku dan dia yang paling terakhir
bersalaman, sambil bersalaman dia berkata padaku katanya “Pak, Aku takan
melupakan keindahan hari ini” aku menjawab sambil memegang tangan dia, “iya,
Bapak juga” akhirnya kami pulang kerumah masing masing. dihari itu liburan telah berakhir, berakhirnya liburan menjadi awal
kisah cinta ku denganya, sejak hari itu aku jadi semangat setiap pagi untuk
berangkat lebih awal kesekolah, karena ku ingin melihat senyum dia yang selalu
merekah bagai bunga dimusim semi disetiap pagi ketika kami saling menyapa, hari
terus berlalu rasa cintaku padanya semakin mendalam, tapi ku tak tau dia
mencintai ku atau tidak karena ku tak berani menanyakan hal ini pada dia.
Seminggu takterasa masa libur telah habis kini saatnya kembali kesekolah. Seperti hari-hari biasanya pagi itu aku beranjak pergi keskolah, motor bebek menemani perjalananku kesekolah, sesampainya kesekolah anak-anak sudah pada kumpul, mereka seraya menyapaku, dengan ucapan “Selamat pagi pak guru” ucap mereka serempak, aku juga menjawab “pagi juga anak-anak, apa kabar kalian semua?” tanya ku, “Baik Pak” jawab mereka, tapi ada satu orang yang tak ku dengar suaranya, ku lihat ke bangku deretan tengah baris kedua dari depan, mataku beradu pandangan dengan seorang murid yang ada di deretan bangku itu, dia hanya tersimpu malu sambil merundukan kepalanya, jelas ku lihat senyumnya merekah indah menghiasi muka paginya.
BERSAMBUNG.........................
Seminggu takterasa masa libur telah habis kini saatnya kembali kesekolah. Seperti hari-hari biasanya pagi itu aku beranjak pergi keskolah, motor bebek menemani perjalananku kesekolah, sesampainya kesekolah anak-anak sudah pada kumpul, mereka seraya menyapaku, dengan ucapan “Selamat pagi pak guru” ucap mereka serempak, aku juga menjawab “pagi juga anak-anak, apa kabar kalian semua?” tanya ku, “Baik Pak” jawab mereka, tapi ada satu orang yang tak ku dengar suaranya, ku lihat ke bangku deretan tengah baris kedua dari depan, mataku beradu pandangan dengan seorang murid yang ada di deretan bangku itu, dia hanya tersimpu malu sambil merundukan kepalanya, jelas ku lihat senyumnya merekah indah menghiasi muka paginya.
Hari-Hari terus berlalu tanpa kusadari
rasa cintaku semakin mendalam padanya, disetiap hari ingin rasanya ku selalu
dekat dengan dia meski begitu aku menutupi perasaanku dihadapan dia dan
dihadapan semua anak-anak, aku merasa malu jika aku harus jujur padanya, karena setatus dia
sebagai anak muridku pada waktu itu. Hari-hari terus kujalani dengan mimpi
suatu saat nanti aku bisa menyatakan cintaku pada dia, dan bisa hidup
bersamanya sebagai sepasang kekasih, Ku ukir mimpi disetiap waktu, kumenikmati
cinta ini dengan mengagumi dia dari sisi gelap ku, hanya dengan melihat
senyum dia disetiap pagi aku telah merasa bahagia, dia menjadi sumber isfirasi
untuk ku slalu berkarya, dan dia sumber tenaga yang menjadikan ku semangat
disetiap aku mau berangkat ke sekolah.
Ditahun ke enam tibalah saatnya
anak-anak didikku mengikuti UAMBN, karena sekolah kami masih bersetatus Fillial
maka kami harus mengikuti UAMBN ke
sekolahan induk, 3 April 2010, kami berangkat untuk mengikuti UAMBN di
sekolahan induk, aku beserta Semua teman-teman guru dan anak-anak yang akan
mengikuti UAMBN mengontrak sebuah rumah yang lokasinya tidak jauh dari tempat
melaksanakan UAMBN, di sini untuk pertama kalinya aku tinggal serumah dengan
dia selama beberapa hari. Sering ku mencuri waktu untuk berdua dengannya meski
tidak jarang anak-anak yang lain mengganggu, Ku merasa heran karena sering
tercipta keromantisan bagaikan sepasang keksih yang saling mencintai, dan tak
jarapula kami bertengkar bagai sepasang kekasih yang saling cemburu, meski
begitu aku menutupi hal ini dari teman guru dan anak-anak yang lain.
Tanpa ku sadari ternyata ada salah satu
murid yang selalu memperhatikan aku dengan dia ”Lia Namanya yang tak lain dia adalah sahabatnya” aku tak tau jika dia selalu memperhatikan
tingkah laku kami, sore 6 April
2010 aku sendirian di teras depan kontrakan rumah, anak
itu menghampiriku, sambil tersenyum dia menyapaku “Selamat sore pak” katanya,
Aku menjawab “Sore juga” kata ku, “sendirian sajah pak” dia berkata lagi, “iya
nih” jawabku, “Boleh mengganggu pak” ujar dia sambil tersenyum, “Boleh, Ada
apa?” tanyaku, “engga ada apa-apa sih cuman pengen ngobrol sajah” jawab dia,
“Oh bgitu” Seruku, “silahkan duduk” aku menyuruh dia untuk duduk, dan diapun
duduk disampingku.
Sejenak tak ada
suara aku dan dia tidak ada yang berkata, setelah beberapa menit barulah dia
membuka pembicaraan, dia berkata “ Oia Pak, Berapa hari lagi pak kita disini”
Tanya dia sambil melirik kepadaku, “ Kurang lebih masih tiga hari lagi kita
disini” jawab ku, “oh tiga hari lagi yah” saut dia. “Iyah “ Jawab ku, “Memang
kenapa? pengen cepet pulang, ga kerasan yah?” Ujar ku lagi, “Engga biasa ajah”
Jawab dia, “Syukurlah kalau begitu” ujarku,
“Oiyah pak, aku boleh Tanya sesuatu ga?” dia membuka topik baru, “
Boleh,Tanya apa?” kataku “Tapi bapak jangan marah yah, kalau aku lancing pada
bapak” dia sambil melirik kepadaku, “Tergantung” kata ku sambil tersenyum, “kok
tergantung pak” seru dia, “Engga kok, becanda, kamu serius banget sih” ujarku,
“ Gini pak, aku mau bertanya tentang hubungan bapak sama Teh Uum” kata dia,
“Maksud mu” jawab ku, “Iyah, selama ini di sekolah, dan disini bapak deket
banget sama the Uum, dan kadang bapak bertingkah mesra dengan dia, dan kayak
nya skarang lagi marahan nih, karena biasanya setiap sore dia selalu menemani
bapak di teras ini,ayo bapak sama Teh Uum pacaran yah” kata dia sambil menatap
penuh Tanya pada ku. Aku sejenak terdiam tak bias jawab, “Kalau bapak diam
Berarti iyah, Bapak sama Teh Uum pacaran, “seru dia, “Eng, eng, engga” jawab ku
grogi, “ngaku saja pak, kalau iyah mah, ga salah kok, kalau bapak pacaran sama
dia” ujar dia lagi, “Siapa yang pacaran, Kamu kepoh banget sih!!! Seru ku,
“Jangan malu-malu pak” dia terus mendesak aku, walau aku selalu ngelak tapi dia
terus mendesak aku, dan akhirnya aku pun terpojokan oleh dia, “Oke…begini,
bapak mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa termasuk dia
yah” Seru ku, “Aku janji” kata dia, “Bapak memang suka sama dia dan bapak cinta
sama dia, tapi bapak gatau dia punya perasaan yang sama atau engga” Kata ku, “Oh bgitu, Cie,cie ada yang jatuh cinta nih,
ledek dia, “ Iyah nih, tapi bapak malu jika bapak harus nyatain cinta sama dia,
dia kan murid bapak juga” ujar ku, “Katakan sajah pak kalau memang bapak cinta
mah sama dia, engga salah kok jika bapak
cinta sama dia, bapak laki-laki, masih muda, ganteng lagi, dia perempuan yang
beranjak remaja cantik lagi, he. . .he. . .he. . .” ujar dia, “ah… kamu bisa sajah”
aku sambil tersenyum tersipu malu, “Tapi bapak bingung dan malu, bapak harus
mulai dari mana dan kapan?” Ujar ku lagi, “engga usah bingung dan engga usah malu
pak nyatain saja perasaan bapak yang sebenarnya dan secepatnya, tar di samber
orang lain bapak baru nyesel” kata dia, “iyah bapak akan nyatain perasaan bapak
sama dia, tapi entar setelah kalian lulus sekolah, kamu bantun bapak yah tuk
yakinin dia bahwa bapak sungguh-sungguh dan serius cinta sama dia” kata ku,
“Iya,pak aku pasti bantuin bapak” Ujar dia, “Yasudah, sudah hamper magrib nih
kita kita shalat berjamaah saja di mesjid” Kata ku, “Iya pak, pak aku mau ambil
peralatan sembahyang dan ngasih tau yang lain” ujar dia, “Iyah, dan makasih yah
kamu sudah mau menemani, tuk berbagi masalah bapak,” Kata ku, “Iyah, pak
sama-sam, Aku permisi dulu pak, dia sambil membalikan badan masuk kedalam
rumah.
Takterasa waktu
berlalu, UAMBN telah selesai dan kami semua kembali kesekolah asal, 21 April
2010 Aku dan semua anak didikku berangkat ke Madrasah Nurul Huda untuk
mengikuti Peringatan Hari kartini, Semua anak perempuan aku perintahkan untuk
memakai pakaian kebaya, aku merasa elok melihat semua anak didikku yang
mengenakan kebaya, mereka menjelma bak Karini muda waktu itu, dengan senyum
manis merekah bagai bunga di musim semi seorang murid yang bernama Uum bertanya
padaku “Pak bagaimana penampilan aku lebih cantik ksn dari biasanya” Ujar dia
sambil tersenyum, “ah biasa sajah tuh” sangkal ku, padahahal dalam hatiku
memuji ke anggunan dia, “ih… Bapak Jahat, aku udah dandan cantik gini masa bagi
bapak biasa ajah” ujar dia lagi “Iya deh, Kamu cantik” jawab ku, “Makasih pak,
aku dandan cantik gini biar bapak bangga sama aku” kata dia, “Maksud mu?” Tanya
ku “Yauda deh jangan dibahas lagi, mendingan kita berangkat, “Tuh yang lain
sudah menunggu didepan” dia tak mau jawab malah mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya kami semua berangkat ke Madrasah Nurul Huda.
Acara hari itu telah selesai bermacam kegiatan
dan lomba telah selesai, kini tiba saatnya kami pulang kurang lebih waktu itu
Pkl 15.00 wib. Dan akhirnya kami pun pulang dan aku mengarahkan semua anak-anak
untuk langsung pulang kerumah masing-masing saja. Aku pulang bersama dua anak
murid ku dan satu teman guru. Di perjalanan kami Sali becandain lia dan
temanku, ngobrol dan becanda sedangkan aku dengan Uum sama seperti mereka,
Karena udara masih panas waktu itu kami pun menggunakan dedaunan untuk
mengurangi panas matahari yang menyengat tubuh kami. “Pak, Bapak panas ga?”
Tanya Uum, “Iyah” Kata ku, “Sini aku payungi Tapi pake daun” Ujar Uum, Meski
badan berkeringatan dan udara sangat panas kami jadi jalan bergandengan
menggunakan selembar daun pisang sebagai paying, dia pun berkata lagi “Pak
boleh aku bertanya sesuatu ga” kata dia, “Boleh” Kata ku, “Kalau seandaiya
seorang anak murid jatuh cinta pada gurunya sendiri itu dosa ga pak?” Tanya dia
“engga, kalau urusan cintamah ga pandang bulu, Mau anak murid jatuh cinta pada
guru atau sebaliknya guru jatuh cinta pada murid, itu sah-sah aja, karena
urusan perasaan biasanya tak guru atau murid tua atau muda, miskin atau kaya,
kalau perasaan itu sudah dating engga ada yang bias menolak” Jawab ku, dalam
hatiku penuh rasa harapan dengan pertanyaan dia, dalam hatiku bergumam
“Sbenarnya Bapak telah jatuh cinta pada mu dan bapak suatu saat nanti ingin
memiliki kamu” Gumam hatiku, “Oh… Bgitu yah!!!” Seru dia, “Memang kenapa kamu
nanya soal itu, Masih kecil jangan ngomongin cinta” Ujar ku. “Enga pak cuma
nanya doang. Tak terasa kami sudah sampai ke rumah dia, “mau mampir dulu ga
pak” Tanya dia, “engga terimakasih” jawab ku, “Yaudah, kalau engga mampir dulu
sampai bertemu besok di sekolah” Ujar dia, “Iyah, kamu istirahat yah” Kata ku,
“iya pak, Bapak juga yah” Seru dia. Harin itu telah berlalu, aku pulang dengan
harapan besar pada suatu saat nanti aku bias memiliki dia. BERSAMBUNG.........................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar